Senin, 18 Mei 2026

Goweser NKRI Sambut Masuk Bulan Dzulhijjah



Tanggal 1 Dzulhijjah, jatuh pada Senin tanggal 18 Mei 2026. Bulan dzulhijjah adalah bulan yang sangat mulia, terutama di 10 hari pertamanya. 


Beberapa amalan utama untuk mengisinya, antara lain memperbanyak puasa sunnah, terutama puasa Arafah (1-9 Dzulhijjah), wabil khusus pada 9 dzulhijjah yang pahalanya menghapus dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang; 

Memperbanyak zikir, takbir, tahlil, dan tahmid mulai 1 Dzulhijjah hingga hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah); Memperbanyak salat sunnah, sedekah, dan baca Al-Qur'an sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah; 

Selain itu yang tidak kurang pentingnya adalah berkurban (bagi yang mampu) pada 10-13 Dzulhijjah sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah; Serta bagi yang tidak berhaji melaksanakan puasa Tarwiyah (pada 8 Dzulhijjah); Dan amaliah-amaliah terpuji lainnya.

Jika kita tidak sedang menunaikan ibadah haji, maka memang sebaiknya memperbanyak amal saleh, memperbaiki silaturahmi, dan memperbanyak istighfar terutama di 10 hari pertama ini. Dalam 10 hari pertama dzulhijjah ini memiliki keutamaan amal yang di dalamnya sangat dicintai Allah.

Delapan goweser ambil bagian

Untuk itulah delapan goweser NKRI (Neangan Karunia Ridho Ilahi) sehari sebelum masuk tanggal 1 dzulhijjah menyambutnya dengan penuh gembira dan sukacita.

Kedelapan goweser itu adalah: Kang Yaya, Kang Isa, Kang Bubun, Kang Tisna, Kang Purnomo, Kang Yopie, Kang Roni dan Kang Nana.

Jalur yang ditempuh sejauh 17,2 KM itu merupakan rute baru, yakni dari Antapani, Jalan Jakarta, Jalan Sukabumi, Jalan Laswi, Jalan Buahbatu, Jalan Bypass Soeta, Jalan Cisaranten Kulon, Jalan Cingised, Jalan Cibodas, dan berakhir di Jalan Balikpapan sebagai tempat finish: Cafe Warung Pojok 46.

Nyaris Dibatalkan

Pada jam 06.00 Minggu pagi cuaca kota Bandung memang kurang bersahabat. Mendung hitam bergelayut menandakan akan turun hujan. Langit Bandung saat itu sungguh tengah membisu berbalut kelabu. Awan tebal merengkuh sisa cahaya, menyisakan aroma tanah basah yang menyelinap di sela udara dingin. Di antara gerimis yang bersiap menyapa, sunyi ini adalah pelukan hangat bagi hati yang tengah merindu, menanti pelangi hadir menghapus jejak sendu di ujung usia senja.

Barangkali seperti itulah kalau kondisi saat itu dirangkai dalam sejumput kata puitis. Namun sungguh kedelapan goweser itu walau usia rata-rata diatas 65 tahun namun tetap memiliki nyali dan bermental baja memaksakan kehendaknya bergowes ria.

Dan alhamdulillah saat start di Lapang JMM, cuaca mulai memudar menunjukkan cahaya paginya yang tampak indah berbinar. Pijaran cahaya mulai menerpa badan-badan kami. Bagai pijatan lembut sang bijak bestari. Kami pun semakin yakin kalau perjalanan gowes kali ini tak akan tersentuh rintik hujan. 

Selepas doa keselamatan kami pun mulai "melecut kuda-kuda" kami melindasi jalanan sesuai jalur tempuh yang direncanakan.

Finish di Cafe WP-46

Selama perjalanan sejauh 17,2 KM itu, tak ditemui aral melintang. Semuanya berjakan mulus tanpa cacat. Rehat hanya dilakukan satu kali saja yakni di Depan Kantor DPRD dan Kantor Pemadam Kebakaran Jalan Sukabumi. Kemudian berlanjut tanpa ampun meminta rehat lagi hingga tempat finish.

Sesampai di tempat finish Cafe Warung Pojok 46 (WO-46) seperti biasa kami pun  mulai bercengkrama tentang ini dan itu tentang begini dan begitu. Tentu saja ditemani suguhan ala WP-46. Ada hamburger, Mi Goreng, Cireng, Pisang sampai kerupuk tertata di meja. Turut hadir bersama kami aneka minuman manis menyegarkan yang telah mengantarkan kami sekedar berkaraoke ria. 

Berita baiknya seluruh jamuan itu diberikan secara cuma-cuma, walaupun sedianya kami berniat untuk membayar. Namun Kang Bubun, salah satu goweser pemilik Cafe, menolak untuk dibayar. Dan, katanya, agar biayanya dijadikan sebagai saldo penambah biaya untuk memasak gule kepala kambing paska Idul Qurban. Masyaallah, hatur kang Bubun, Insyaallah berkah.

Yah, seperti itulah perjalanan kami pada Minggu Pagi, 17 Mei 2026. Selamat beramal sholeh memasuki Bulan Dzulhijjah yang penuh limpahan pahala, rahmat dan keberkahan.
Cag, ah,,!!(nanas/komdigi/kisunda-10/rw-10/Ankid/06-26)














Senin, 04 Mei 2026

11 Goweser Songsong Idul Qurban: "Waw, Ada Kejutan Apa di Gule Kambing?"



Sebelas goweser RW-10 Antapani Kidul Songsong Idul Qurban
siap tandang menggilas jalanan pusat kota Bandung

Sebelas Goweser RW-10 Antapi Kidul, kembali menunjukkan kiprahnya sebagai goweser tak kenal lelah dan ampun. Walau masuk kategori lansia (lanjut usia), namun semangatnya tetap tangguh dengan kerjasama solid yang dicirikan dengan aura sehat, produktif, langka dan bahagia.

Memang kehadiran kaum goweser RW-10 Antapani Kidul, bertekad untuk tetap istiqomah berkarya, bersosialisasi, dan berbahagia melalui pendekatan spiritual, tempaan fisik intens, kecerdasan emosional, dalam ciptaan suatu lingkungan kondusif. Kaum goweser kami tidak akan menyerah sejengkal pun pada keterbatasann usia dan keterbatasan fisik saat ini.

Untuk itulah aktivitas dan produktivitanya tetap terjaga. Tidak berhenti untuk tetap berkarya, bahkan tetap aktif mengikuti kegiatan sosial seperti jalan santai, gowes, mancing, pingpong, motor biker touring, dll.

Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk menunjukkan eksistensi guna mencapai kelanggengan bersilaturahmi, menjaga kesehatan, menggedor jantung agar tetap tahan dan tabah, hingga menempa kekakuan sendi agar tak lantas loyo.

Kongkow Sebelum Start

Untuk itulah pada Minggu Pagi, 3 Mei 2026, sekitar pukul 07.30 wib, 10 goweser telah bergerombol di lapangan Jalan JMM (Jayapura Manokwari Merauke). Seperti biasa sebelum berangkat kami sempatkan kongkow-kongkow dulu.

"Ini sudah jam 07.30, bendahara kita Kang Isa, belum nongol, kemana ya? Soalnya kalau gak ada bendahara bisa rudet urusan kita." tanya Kang Dwi pada rekan-rekannya.

"Waduh, kalau hari minggu gini belum hadir mah, jangan-jangan ke gereja tuh," timpal Kang Irsan.

"Huss, ngaco, beliau mah ahli masjid," kata Kang Roni.

"Mungkin saja pamit dulu sama istrinya, memohon doa restu dan dua puluh lima rebu agar selamat di perjalanan," timpal Kang Purnomo mencoba menenangkan.

"Ya, sudah, saya datangi dulu ke rumahnya, takutnya ada kenapa-kenapa," respon Kang Yopie seraya menaiki "kudanya" untuk mengunjungi rumah Kang Isa.

Namun baru Kang Yopie keluar lapangan dengan sepedahnya, dari kejauhan rentang-rentang Kang Isa tampaknya sudah nongol. Kang Yopie pun mengurungkan niatnya.

Begitu Kang Isa masuk lapangan dan memarkirkan sepeda kesayangannya, langsung dari sakunya dikeluarkan keresek warna hitam.

"KDM, KDM, KDM...", katanya seraya menyodorkan kantong kresek ke rekan-rekannya. (Maksud KDM versi Goweser kita adalah memberikan sumbangan sebagaimana yang dilakukan Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi kepada rakyatnya). Sementara bagi kita sekedar mengisi kencleng kebersamaan untuk kebutuhan kuliner jalanan. Karena sudah menjadi budaya, semuanya "ngodok saku" untuk berpartisipasi.

"Jadi tujuan kita adalah ke sekitar Tegalega, kemudian kulinernya kita akan menikmati Gule Kambing, Mang Nono yang berlokasi di Jalan Astana Anyar," ujar Kang Nana saat memimpin barisan.

"Wah, bagaimana kalau Gule Kambingnya, di Jalan Balong Gede, lebih murah, lebih enak, dan lebih higines," usul Kang Irsan.

"Wah, usul menarik nih, boleh jga tuh kita jajal, tapi Kang Irsan sudah pernah kesana belum?" timpal Kang Nana

"Justru itu belum...," katanya singkat.

"Yeeh, kirain udah nyobain, berarti belum tau lokasi lapaknya ya?," timpal Kang Nana.

"Oh, yang di Jalan Balong Gede dekat Alun-Alun yah, Saya tau tapi tidak tahu ...," timpal Kang Yaya.

"Halah juragan mah, kayak Jokowi aja, 'saya tau tapi tidak tau', hehehe, ya sudah kita coba saja ke Jl. Balong Gede," kata Kang Nana seraya mempersiapkan keberangkatan sesaat setelah melantunkan doa keselamatan.

Adapun kesebelas goweser kali ini adalah: Kang Yaya, Kang Isa, Kang Bubun, Kang Irsan, Kang Dwi, Kang Rusdi, Kang Yopie, Kang Sopro, Kang Purnomo, Kang Roni dan Kang Nana.

Rute Jadi Acakadut

Sebelas goweser pun mulai berangkat dari Antapani melindas jalanan kota bandung menyusuri arah Tegalega. Rehat pertama di Jalan Ahmad Yani Informa, Rehat kedua di Gedung Merdeka Asia Afrika. Setelah berfoto ria rombongan belok kiri menyusuri sisi timur Alun-Alun menuju Jalan Balong Gede.

Setelah masuk sepanjang Jalan Balong Gede, semuanya pada clingak clinguk, mencari warung Sate Gule Kambing Balong Gede. Namun tak jua jumpa. Yang berjasa tetap saja tukang parkir yang telah menunjukkan lokasi tepat si Tukang Gule yang katanya menghebohkan itu.

Namun betapa sialnya kalau tak sudi dibilang apes, ternyata warung gule yang dituju belum buka. Kabarnya mulai beroperasi pada jam 10 siang. Alamak, dengan sedikit hati dongkol bin kecewa kami pun putar balik kembali ke arah Jalan Dewi Sartika, kemudian masuk lagi ke Jalan Sudirman melalui pinggiran Masjid Agung.

Namun entah mengapa setelah kembali masuk Jalan AA malah belok kanan ke Jalan Alketeri, Jalan ABC hingga terjebak di Pertokoan Banceuy.

"Aduh-aduh, Ini teh kita mau kemana sih, koq bisa masuk ke Jalan ABC dan Banceuy?" kata Kang Sopro.

"Kelihatannya tadi ada desas desus mau ke tempat lotek di pertigaan ABC," kata Kang Bubun.

"Wah, cilaka, ini mah bakal pimencreteun atuh," kata Kang Roni.

Namun beruntung gak jadi ke tempat lotek karena sepertinya juga belum buka.

"Bagaimana kalau kita langsung ke Sate Pajajaran saja, tempat sate langganan kita" usul Kang Bubun.

"Kalau hari minggu, sate pajajaran libur kang, kabarnya sih jatahnya ke gereja," seloroh Kang Nana karena tau persis kalau pemilik sate pajajaran sebagaimana info dari Kang Damar Almarhum adalah orang muslim.

Akhirnya kita pun berputar lagi ke Jalan Otista melalui depan Pasar Baru. Yang membingungkan dari Jalan Otista kalau mau ke Jalan Astana Anyar, kan mustinya belok kanan. Ini malah lurus terus menuju Lapang Tegalega. Mulai dari sinilah kekompakan grup menjadi acakadut.

Terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama lima goweser (Kang Isa, Kang Yaya, Kang Rusdi, Kang Dwi, Kang Sopro) langsung menusuk ke arah pasar Barang Bekas Jalan Astana Anyar hingga sampai duluan di Warung Gule Mang Nono.

Kelompok kedua tiga orang (Kang Nana, Kang Roni, Kang Purnomo) kebablasan sampai depan Lapang Tegalega karena biasanya berkumpul disana. Karena tak ketemu kemudian putar balik menuju Pasar Barang Bekas Astana Anyar. Karena padatnya pengunjung terpaksa sepeda harus dituntun dulu. Sampailah di Warung Gule sebagai romobongan kedua.

Sementara kelompok ketiga tiga orang (Kang Bubun, Kang Yopie dan Kang Irsan) yang juga kebablasan malah sampai lampu merah Tegalega, walau akhirnya sampai juga belakangan dan langsung menuju Sate Gule Sapi (diikuti Kang Roni) yang lapaknya berada di seberang jalan Gule Mang Nono.

Obrolan di tempat Gule Kang Nono

"Terus terang Saya tuh tadinya mengkhawatirkan kondisi Kang Nana yang belum tiba disini, siapa tau kelelahan dan ngaboseh ngadedod seperti waktu ke GBLA," buka obrolan dari Kang Dwi disebelah Kang Sopro saat Kang Nana sedang menikmati Gule Kambing sorangan maklum yang lain sudah pada selesai makan.

Mungkin karena sedang menikmati gule kambingnya, apalagi Kang Nana sedang ngadekul dengan lahapnya, hingga obrolan Kang Dwi tidak begitu digubris sama Kang Nana.

"Saya malah telpon berkali-kali ke Kang Nana, tapi gak ada jawaban, sampai sempat bingung posisinya lagi pada dimana," timpal Kang Rusdi, yang juga tak mendapat respon Kang Nana yang lagi fokus memilah kulit domba dari tulang cokornya.

Tanpa disadari, mungkin melihat yang lagi makan begitu lahapnya, rupanya Pak RW, Kang Yaya, mengabadikan Kang Nana sedang makan Gule yang menurut pengakuannya katanya sudah terbayang sejak dari rumah untuk menikmati gule si mang Nono yang maknyusnya gak ketulungan itu.

"Tapi begini ya, yang saya heran kenapa perjalanan kita sampai kacau berputar-putar gak karuan kayak tadi ya?" pancing Kang Sopro.

Kali ini Kang Nana mulai merespon. "Maklum, sudah pada pikun kali kang," respon Kang Nana bari ngahuapkeun sangu nyemek kuah gule.

"Bisa jadi, siga na mah faktor usia tea, tos rada kendor emutan nana," timpal Kang Dwi yang direspon Kang Yaya dan Kang Purnomo dengan senyuman hambar.

Gule Mang Nono dan Bisikan Maut Bendahara

Dari tadi Kang Isa, sang bendahara kita mondar-mandir terus seperti kebingungan. Entah apa yang terjadi.

Namun ujug-ujug sang bendahara, Kang Isa nyamperin Kang Nana dan mulai membisikan sesatu.

"Kang Nana, paket gule itu bukan 35 rb tapi 50 rb, gule sate sapi yang diseberang sana juga jadi 35 rb," bisik kang Isa seperti takut terdengar rekan-rekan yang lain.

"Walah, kirain masih tetap 35 rb, mungkin dampak kenaikan BBM Non Subsidi yang terlalu signifikan kali sampai berdampak serius ke harga gule, hehhe..." respon Kang Nana. Tapi kalau dilihat porsinya, kata Kang Nana, memang ada peningkatan.

Selain porsi nasinya banyak, juga coba saja lihat isi gule yang ada di mangkok. Ada tangkar, ada cokor, hati, usus, babat, pokonya lengkap, rasa kuahnya juga lebih menjanjikan. Coba kalau kita masak sendiri, selain tidak terjamin rasanya, pastina bakal pirudeteun weh. Jadi kalau 50 rb mah masih cingcay dalam batas kewajaran.

"Kita memang tekor, tapi semuanya sudah teratasi berkat ada dua donatur bertangan dingin, Kang Rusdi selesaikan kekurangan di Gule Kambing, Kang Bubun beresin tekor di Gule Sate Sapi, Alhamdulillah," kata Kang Isa dengan senyum sumringah.

Memang para goweser kita itu solidaritasnya cukup kental. Jika terjadi masalah yang berkaitan dengan kesulitan apapun akan siap dan sigap membantu. Misalnya bagi yang sepedahnya rusak, sakit, musibah, tidak terkecuali permasalahan tekor menekor keuangan, para donatur tanpa diminta selalu siap memberikan pertolongan.

Setelah kami cukup puas menikmati kuliner gule Jalan Astana Anyar yang melegenda itu, kami pun mulai meninggalkan lokasi. Seperti biasa saat kepulangannya para goweser saling memacu sepedanya. Apalagi setelah mendapat energi tambahan gule kambing, gairah memacu sepedanya bagai meledak-ledak untuk segera sampai ke "kandang" rumahnya masing-masing.

Alhamdulillah kami pun sampai tujuan dengan semangat sentosa penuh bahagia.
Cag, ah...!
(kangnana/jurnaliskisunda-10/pengurusrw-10/almuhajirin-10/antapani/bandung)
















































Minggu, 19 April 2026

10 Goweser NKRI Nekat "Rangsek" 3 Lokasi

 






Tradisi Paska Lebaran merupakan rangkaian kegiatan yang tidak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. Setiap daerah memiliki tradisi beragam yang acapkali dilakukan secara  unik dan bermakna. Hal ini mencerminkan kekayaan khasanah budaya dan nilai-nilai spiritual yang dijunjung tinggi masyarakat Muslim Indonesia. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi, tetapi juga sebagai wujud syukur atas selesainya ibadah puasa Ramadhan.

Dalam pelaksanaannya, tradisi setelah lebaran memiliki berbagai bentuk dan cara yang berbeda-beda di setiap daerah. Namun, inti dari tradisi setelah lebaran ini tetap sama, yaitu untuk memperkuat hubungan antar manusia dan menjaga istiqomah ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan paska lebaran ini juga menjadi momentum tepat untuk introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan sesama, tidak terkecuali dengan berbagai komunitas.

Bagi Pengurus RW-10 Antapani Bandung, tentu saja paska lebaran diisinya dengan tradisi kegiatan yang teragenda konsisten setiap tahun.  Kegiatan halal bihalal, misalnya, yang telah terselenggara pada 11 April 2026 yang lalu. Sedangkan bagi komunitas gowesnya tentu saja dengan  menggiatkan kembali aktivitasnya.

Tujuannya selain guna menjaga tali silaturahmi diantara kaum goweser, juga dalam upaya menjaga kebugaran tubuh. Maklum, pada saat lebaran tubuh ini kerap dikerubutin berbagai makanan lezat, yang boleh jadi membahayakan tubuh. 

Makanan semacam rendang, opor, sambal ati, garang asem dan sebangsanya sangat mungkin  berakibat menumpuknya kolesterol, asam urat, meningkatnya tensi darah, meningkatnya gula darah dan sejenisnya.

Untuk itulah pada Sabtu, 18 April 2026, hadir 10 goweser NKRI (Neangan/mencari Karunia Ridho Ilahi) RW-10 Antapani Bandung. Walapun 10 goweser ini masuk kategori aki-aki gaek, tapi yang jelas nyalinya itu loh, bagai Toyota Kijang, "Tiada Duanya."

Tak tanggung-tanggung rute yang ditempuh pun bukan rute biasa. Selain berani menyusuri jalan bypass yang cukup padat kendaraan, namun juga menghadapi beberapa lampu merah, yang jika tak hati-hati bisa keseruduk "barang keras" alias mobil-mobil yang berseliweran. 

Jarak tempuh pun tak boleh dibilang bersenda gurau. Sepuluh goweser pemberani itu harus melindas jalanan  sekitar 30 km.  Tujuan yang disasar menusuk ke  tiga lokasi yakni: Summarecon Bandung, Masjid Al-Jabbar dan GBLA (Gelora Bandung Lautan Api). 

Adapun ke sepuluh goweser itu (foto paling atas dari kiri ke kanan) adalah:

1. Kang Nana
2. Kang Roni
3. Kang Isa
4. Kang Rusdi
5. Kang Yaya
6. Kang Purnomo
7. Kang Yopie
8. Kang Muryono
9. Kang Abidin
10.Kang Iskandar

Heboh Si Garang Asem

Perjalanan dimulai dari Antapani menusuk ke Jalan ByPass Soeta. Sampai Perempatan Gedebage belok kanan dan langsung menyosor ke Summarecon. Di Summarecon kami manfaatkan untuk berfoto. Kami pun cukup puas menyusuri jalanan mulus dan pemandangan indah Summarecon.

Perlu dimaklumi bahwa Summarecon Bandung  sebagai kawasan terpadu secara konsisten meraih penghargaan tingkat nasional dan internasional 2024-2025. Penghargaan ini menonjolkan keunggulan dalam pengembangan kawasan, desain lingkungan (peraih environmental award) serta proyek hunian berkualitas sehingga menegaskan posisinya sebagai pengembang terkemuka di Jawa Barat. 

Tidak heran kalau Summarecon Bandung mendapat penghargaan sebagai  Kawasan dengan Penataan Lingkungan Terbaik se-Asia Tenggara. Memenangkan Excellence World Class Environmental Award pada Mei 2024 di Singapura.

Setelah puas menikmati lingkungan di Summarecon perjalanan dilanjutkan ke arah Masjid Al-Jabbar yang kebetulan sedang ada Pengajian Akbar yang menghadirkan Jamaah Nahdiyin dari berbagai kota dan menghadirkan ratusan bus luar kota. Untuk menghindari kemacetan, perjalanan diarahkan menuju tujuan akhir ke GBLA (Gelora Bandung Lautan Api). 

Pas sampai di GBLA inilah kelelahan telah mencapai titik nadirnya. Selain tentu saja perut para goweser sudah tak bisa dikompromikan lagi. Kalau perut bisa ngomong, mungkin perut ini akan protes keras dan bicara: "Aduh lapar pisan euy, Ayo Makan dong, Jangan suka Zalim begitu," mungkin begitu kata si perut.

Akhirnya di GBLA inilah dimanfaatkan untuk menikmati kuliner di sekitar Pintu Timur GBLA. Disitu berjejer warung-warung dengan beraneka jajanan. Mulai dari baso, cilok, batagor, mie ayam, gorengan, pecel, soto, garang asem, sampai berbagai jenis buah-buahan.

Tujuh goweser lebih kepincut untuk menikmati makanan pecel khas Banyumas. Seorang goweser cukup fanatik dengan nasi sotonya, dan dua goweser pilihannya jatuh pada garang asem.  

Kami bertujuh memilih kuliner Pecel khas Banyumas karena tertarik dengan bumbunya yang melimpah ditemani segumpal mendoan. Kebetulan di sebelahnya ada Warung yang menyajikan menu Soto dan Garam Asem. Mereka bertiga lah yang kemudian menikmati di warung sebelahnya.

Garang Asem rupanya telah menu favorit di tempat itu. Walaupun harganya sedikit lebih tinggi dari rata-rata paket makanan di tempat itu, namun kesan bagi para penikmatnya garam asemnya sungguh mengundang selera dan sanggup memberi sensasi luar biasa. Bahkan kabarnya mampu meningkatkan enerjitas tanpa catatan sehingga bisa memacu sepedah dengan sangat agresif.

Paling bontot

Setiap peristiwa sudah biasa kalau harus dibumbui suka duka. Dari sepuluh goweser gaek, rupanya ada seorang goweser yang memang agak kesulitan mengimbangi laju gowes rekan-rekannya. Walaupun dia tak sudi dibilang goweser loyo, namun pada kenyataannya memang melaju paling bontot. 

Dia berdalih agak berat memacu sepedahnya itu efek dari berat badannya yang terus meningkat. Menurut pengkuannya, sewaktu dinas beratnya tak lebih dari 60 kg, tapi begitu pensiun yang kini sudah sepuluh tahun berat badannya bertambah tambun menjadi 78 kg. (lihat saja tuh foto diatas paling kiri). Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan Kang Nana (qiqiqiqi...!!)

Jadinya, katanya, wajar, kalau dalam memacu sepedahnya agak sedikit kewalahan terutama kalau jarak tempuhnya lumayan jauh. Paling terasa itu pada saat kepulangannya, para goweser pada memacu "kudanya"  tanpa ampun. Ada yang beralasan ditunggu cucu, mau jemput bini, antar anak, ditunggu pelanggan, disuruh istri pulangnya bawa belanjaan, atau mungkin saja ada yang berbelok ke arah yang tidak jelas, hahahha...!!! serta  alasan-alasan lainnya. 

Beruntung ada seorang goweser , Kang Abidin, yang mungkin iba melihat temennya "ngaboseh sapedah siga nu ripuh kitu." Beliaupun mengawal ketat perjalanan si bontot karena harus rehat beberapa kali.

"Maklum, kang Bidin, sejak lebaran gak pernah sasapedahan lagi, jadi agak kaku dan pada linu nih otot-otot kaki.." kata si Bontot.

"Iyah kang seharusnya memang dilatih, cukup berputar di sekeliling kompleks  saja biar ada pergerakan. Tapi segitu saja lumayan bagus loh kang bisa sampai kesini," timpal Kang Bidin rada memuji saat sudah mendekati rumah.

"Siyap Kang Bidin, nanti akan saya upayakan berlatih. Hatur nuhun kang sudah ngawal saya sejak dari GBLA," kata si gembrot dengan sumringah karena sukses sampai rumah.

Ulasan cukup sampai dini dulu yah. Jangan lupa dalam dua pekan ke depan kita akan menyatroni Gule Kepala Kambing Jalan Astana Anyar yang telah lama gak sempat digeruduk lagi.
Cag, ah...!!!(nas/jurnalis/Kisunda-10)

Foto dokumentasi:






dua goweser penikmat
garang asem "ada sensasi Luar Biasa"







Ketemu Kang Budi dari Cileunyi yg diminta
tolong foto utk mengabadikan saat di Summarecon








Goweser NKRI Sambut Masuk Bulan Dzulhijjah

Tanggal 1 Dzulhijjah, jatuh pada Senin tanggal 18 Mei 2026. Bulan dzulhijjah adalah bulan yang sangat mulia, terutama di 10 hari pertamanya....