
Sebelas goweser RW-10 Antapani Kidul Songsong Idul Qurban
siap tandang menggilas jalanan pusat kota Bandung
Sebelas Goweser RW-10 Antapi Kidul, kembali menunjukkan kiprahnya sebagai goweser tak kenal lelah dan ampun. Walau masuk kategori lansia (lanjut usia), namun semangatnya tetap tangguh dengan kerjasama solid yang dicirikan dengan aura sehat, produktif, langka dan bahagia.
Memang kehadiran kaum goweser RW-10 Antapani Kidul, bertekad untuk tetap istiqomah berkarya, bersosialisasi, dan berbahagia melalui pendekatan spiritual, tempaan fisik intens, kecerdasan emosional, dalam ciptaan suatu lingkungan kondusif. Kaum goweser kami tidak akan menyerah sejengkal pun pada keterbatasann usia dan keterbatasan fisik saat ini.
Untuk itulah aktivitas dan produktivitanya tetap terjaga. Tidak berhenti untuk tetap berkarya, bahkan tetap aktif mengikuti kegiatan sosial seperti jalan santai, gowes, mancing, pingpong, biker touring, dll.
Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk menunjukkan eksistensi guna mencapai kelanggengan bersilaturahmi, menjaga kesehatan, menggedor jantung agar tetap tahan dan tabah, hingga menempa kekakuan sendi agar tak lantas loyo.
Kongkow Sebelum Start
Untuk itulah pada Minggu Pagi, 3 Mei 2026, sekitar pukul 07.30 wib, 10 goweser telah bergerombol di lapangan Jalan JMM (Jayapura Manokwari Merauke). Seperti biasa sebelum berangkat kami sempatkan kongkow-kongkow dulu.
"Ini sudah jam 07.30, bendahara kita Kang Isa, belum nongol, kemana ya? Soalnya kalau gak ada bendahara bisa rudet urusan kita." tanya Kang Dwi pada rekan-rekannya.
"Waduh, kalau hari minggu gini belum hadir mah, jangan-jangan ke gereja tuh," timpal Kang Irsan.
"Huss, ngaco, beliau mah ahli masjid," kata Kang Roni.
"Mungkin saja pamit dulu sama istrinya, memohon doa restu dan dua puluh lima rebu agar selamat di perjalanan," timpal Kang Purnomo mencoba menenangkan.
"Ya, sudah, saya datangi dulu ke rumahnya, takutnya ada kenapa-kenapa," respon Kang Yopie seraya menaiki "kudanya" untuk mengunjungi rumah Kang Isa.
Namun baru Kang Yopie keluar lapangan dengan sepedahnya, dari kejauhan trentang-rentang Kang Isa tampaknya sudah nongol. Kang Yopie pun mengurungkan niatnya.
Begitu Kang Isa masuk lapangan dan memarkirkan sepeda kesayangannya, langsung dari sakunya dikeluarkan keresek warna hitam.
"KDM, KDM, KDM...", katanya seraya menyodorkan kantong kresek ke rekan-rekannya. (Maksud KDM versi Goweser kita adalah memberikan sumbangan sebagaimana yang dilakukan Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi kepada rakyatnya). Sementara bagi kita sekedar mengisi kencleng kebersamaan untuk kebutuhan kuliner jalanan. Karena sudah menjadi budaya, semuanya "ngodok saku" untuk berpartisipasi.
"Jadi tujuan kita adalah ke sekitar Tegalega, kemudian kulinernya kita akan menikmati Gule Kambing, Mang Nono yang berlokasi di Jalan Astana Anyar," ujar Kang Nana saat memimpin barisan.
"Wah, bagaimana kalau Gule Kambingnya, di Jalan Balong Gede, lebih murah, lebih enak, dan lebih higines," usul Kang Irsan.
"Wah, usul menarik nih, boleh jga tuh kita jajal, tapi Kang Irsan sudah pernah kesana belum?" timpal Kang Nana
"Justru itu belum...," katanya singkat.
"Yeeh, kirain udah nyobain, berarti belum tau lokasi lapaknya ya?," timpal Kang Nana.
"Oh, yang di Jalan Balong Gede dekat Alun-Alun yah, Saya tau tapi tidak tahu ...," timpal Kang Yaya.
"Halal juragan mah, kayak Jokowi aja, 'saya tau tapi tidak tau', hehehe, ya sudah kita coba saja ke Jl. Balong Gede," kata Kang Nana seraya mempersiapkan keberangkatan sesaat setelah melantunkan doa keselamatan.
Adapun kesebelas goweser kali ini adalah: Kang Yaya, Kang Isa, Kang Bubun, Kang Irsan, Kang Dwi, Kang Rusdi, Kang Yopie, Kang Sopro, Kang Purnomo, Kang Roni dan Kang Nana.
Rute Jadi Acakadut
Sebelas goweser pun mulai berangkat dari Antapani melindas jalanan kota bandung menyusuri arah Tegalega. Rehat pertama di Jalan Ahmad Yani Informa, Rehat kedua di Gedung Merdeka Asia Afrika. Setelah berfoto ria rombongan belok kiri menyusuri sisi timur Alun-Alun menuju Jalan Balong Gede.
Setelah masuk sepanjang Jalan Balong Gede, semuanya pada clingak clinguk, mencari warung Sate Gule Kambing Balong Gede. Namun tak jua jumpa. Yang berjasa tetap saja tukang parkir yang telah menunjukkan lokasi tepat si Tukang Gule yang katanya menghebohkan itu.
Namun betapa sialnya kalau tak sudi dibilang apes, ternyata warung gule yang dituju belum buka. Kabarnya mulai beroperasi pada jam 10 siang. Alamak, dengan sedikit hati dongkol bin kecewa kami pun putar balik kembali ke arah Jalan Dewi Sartika, kemudian masuk lagi ke Jalan Sudirman melalui pinggiran Masjid Agung.
Namun entah mengapa setelah kembali masuk Jalan AA malah belok kanan ke Jalan Alketeri, Jalan ABC hingga terjebak di Pertokoan Banceuy.
"Aduh-aduh, Ini teh kita mau kemana sih, koq bisa masuk ke Jalan ABC dan Banceuy?" kata Kang Sopro.
"Kelihatannya tadi ada desas desus mau ke tempat lotek di pertigaan ABC," kata Kang Bubun.
"Wah, cilaka, ini mah bakal pimencreteun atuh," kata Kang Roni.
Namun beruntung gak jadi ke tempat lotek karena sepertinya juga belum buka.
"Bagaimana kalau kita langsung ke Sate Pajajaran saja, tempat sate langganan kita" usul Kang Bubun.
"Kalau hari minggu, sate pajajaran libur kang, kabarnya sih jatahnya ke gereja," seloroh Kang Nana karena tau persis kalau pemilik sate pajajaran sebagaimana info dari Kang Damar Almarhum adalah orang muslim.
Akhirnya kita pun berputar lagi ke Jalan Otista melalui depan Pasar Baru. Yang membingungkan dari Jalan Otista kalau mau ke Jalan Astana Anyar, kan mustinya belok kanan. Ini malah lurus terus menuju Lapang Tegalega. Mulai dari sinilah kekompakan grup menjadi acakadut.
Terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama lima goweser (Kang Isa, Kang Yaya, Kang Rusdi, Kang Dwi, Kang Sopro) langsung menusuk ke arah pasar Barang Bekas Jalan Astana Anyar hingga sampai duluan di Warung Gule Mang Nono.
Kelompok kedua tiga orang (Kang Nana, Kang Roni, Kang Purnomo) kebablasan sampai depan Lapang Tegalega karena biasanya berkumpul disana. Karena tak ketemu kemudian putar balik menuju Pasar Barang Bekas Astana Anyar. Karena padatnya pengunjung terpaksa sepeda harus dituntun dulu. Sampailah di Warung Gule sebagai romobongan kedua.
"Aduh-aduh, Ini teh kita mau kemana sih, koq bisa masuk ke Jalan ABC dan Banceuy?" kata Kang Sopro.
"Kelihatannya tadi ada desas desus mau ke tempat lotek di pertigaan ABC," kata Kang Bubun.
"Wah, cilaka, ini mah bakal pimencreteun atuh," kata Kang Roni.
Namun beruntung gak jadi ke tempat lotek karena sepertinya juga belum buka.
"Bagaimana kalau kita langsung ke Sate Pajajaran saja, tempat sate langganan kita" usul Kang Bubun.
"Kalau hari minggu, sate pajajaran libur kang, kabarnya sih jatahnya ke gereja," seloroh Kang Nana karena tau persis kalau pemilik sate pajajaran sebagaimana info dari Kang Damar Almarhum adalah orang muslim.
Akhirnya kita pun berputar lagi ke Jalan Otista melalui depan Pasar Baru. Yang membingungkan dari Jalan Otista kalau mau ke Jalan Astana Anyar, kan mustinya belok kanan. Ini malah lurus terus menuju Lapang Tegalega. Mulai dari sinilah kekompakan grup menjadi acakadut.
Terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama lima goweser (Kang Isa, Kang Yaya, Kang Rusdi, Kang Dwi, Kang Sopro) langsung menusuk ke arah pasar Barang Bekas Jalan Astana Anyar hingga sampai duluan di Warung Gule Mang Nono.
Kelompok kedua tiga orang (Kang Nana, Kang Roni, Kang Purnomo) kebablasan sampai depan Lapang Tegalega karena biasanya berkumpul disana. Karena tak ketemu kemudian putar balik menuju Pasar Barang Bekas Astana Anyar. Karena padatnya pengunjung terpaksa sepeda harus dituntun dulu. Sampailah di Warung Gule sebagai romobongan kedua.
Sementara kelompok ketiga tiga orang (Kang Bubun, Kang Yopie dan Kang Irsan) yang juga kebablasan malah sampai lampu merah Tegalega, walau akhirnya sampai juga belakangan dan langsung menuju Sate Gule Sapi (diikuti Kang Roni) yang lapaknya berada di seberang jalan Gule Mang Nono.
Obrolan di tempat Gule Kang Nono
"Terus terang Saya tuh tadinya mengkhawatirkan kondisi Kang Nana yang belum tiba disini, siapa tau kelelahan dan ngaboseh ngadedod seperti waktu ke GBLA," buka obrolan dari Kang Dwi disebelah Kang Sopro saat Kang Nana sedang menikmati Gule Kambing sorangan kan yang lain sudah pada selesai makan.
Mungkin karena sedang menikmati gule kambingnya, apalagi Kang Nana sedang ngadekul dengan lahapnya, hingga obrolan Kang Dwi tidak begitu digubris sama Kang Nana.
"Saya malah telpon berkali-kali ke Kang Nana, tapi gak ada jawaban, sampai sempat bingung posisinya lagi pada dimana," timpal Kang Rusdi, yang juga tak mendapat respon Kang Nana yang lagi fokus memilah kulit domba dari tulang cokornya.
Tanpa disadari, mungkin melihat yang lagi makan begitu lahapnya, rupanya Pak RW, Kang Yaya, mengabadikan Kang Nana sedang makan Gule yang menurut pengakuannya katanya sudah terbayang sejak dari rumah untuk menikmati gule si mang Nono yang maknyusnya gak ketulungan itu.
"Tapi begini ya, yang saya heran kenapa perjalanan kita sampai kacau berputar-putar gak karuan kayak tadi ya?" pancing Kang Sopro.
Kali ini Kang Nana mulai merespon. "Maklum, sudah pada pikun kali kang," respon Kang Nana bari ngahuapkeun sangu nyemek kuah gule.
"Bisa jadi, siga na mah faktor usia tea, tos rada kendor emutan nana," timpal Kang Dwi yang direspon Kang Yaya dan Kang Purnomo dengan senyuman hambar.
Gule Mang Nono dan Bisikan Maut Bendahara
Dari tadi Kang Isa, sang bendahara kita mondar-mandir terus seperti kebingungan. Entah apa yang terjadi.
Namun ujug-ujug sang bendahara, Kang Isa nyamperin Kang Nana dan mulai membisikan sesatu.
"Kang Nana, paket gule itu bukan 35 rb tapi 50 rb, gule sate sapi yang diseberang sana juga jadi 35 rb," bisik kang Isa seperti takut terdengar rekan-rekan yang lain.
"Walah, kirain masih tetap 35 rb, mungkin dampak kenaikan BBM Non Subsidi yang terlalu signifikan kali sampai berdampak serius ke harga gule, hehhe..." respon Kang Nana. Tapi kalau dilihat porsinya, kata Kang Nana, memang ada peningkatan.
Selain porsi nasinya banyak, juga coba saja lihat isi gule yang ada di mangkok. Ada tangkar, ada cokor, hati, usus, babat, pokonya lengkap, rasa kuahnya juga lebih menjanjikan. Coba kalau kita masak sendiri, selain tidak terjamin rasanya, pastina bakal pirudeteun weh. Jadi kalau 50 rb mah masih dalam batas kewajaran.
"Kita memang tekor, tapi semuanya sudah teratasi berkat ada dua donatur bertangan dingin, Kang Rusdi selesaikan kekurangan di Gule Kambing, Kang Bubun beresin tekor di Gule Sate Sapi, Alhamdulillah," kata Kang Isa dengan senyum sumringah.
Memang para goweser kita itu solidaritasnya cukup kental. Jika terjadi masalah yang berkaitan dengan kesulitan apapun akan siap dan sigap membantu. Misalnya bagi yang sepedahnya rusak, sakit, musibah, tidak terkecuali permasalahan tekor menekor keuangan, para donatur tanpa diminta selalu siap memberikan pertolongan.
Setelah kami cukup puas menikmati kuliner gule Jalan Astana Anyar yang melegenda itu, kami pun mulai meninggalkan lokasi. Seperti biasa saat kepulangannya para goweser saling memacu sepedanya. Apalagi setelah mendapat energi tambahan gule kambing, gairah memacu sepedanya bagai meledak-ledak untuk segera sampai ke kandang rumahnya masing-masing.
Alhamdulillah kami pun sampai tujuan dengan semangat sentosa penuh bahagia.
Cag, ah...!
(kangnana/jurnaliskisunda-10/pengurusrw-10/almuhajirin-10/antapani/bandung)
Memang para goweser kita itu solidaritasnya cukup kental. Jika terjadi masalah yang berkaitan dengan kesulitan apapun akan siap dan sigap membantu. Misalnya bagi yang sepedahnya rusak, sakit, musibah, tidak terkecuali permasalahan tekor menekor keuangan, para donatur tanpa diminta selalu siap memberikan pertolongan.
Setelah kami cukup puas menikmati kuliner gule Jalan Astana Anyar yang melegenda itu, kami pun mulai meninggalkan lokasi. Seperti biasa saat kepulangannya para goweser saling memacu sepedanya. Apalagi setelah mendapat energi tambahan gule kambing, gairah memacu sepedanya bagai meledak-ledak untuk segera sampai ke kandang rumahnya masing-masing.
Alhamdulillah kami pun sampai tujuan dengan semangat sentosa penuh bahagia.
Cag, ah...!
(kangnana/jurnaliskisunda-10/pengurusrw-10/almuhajirin-10/antapani/bandung)











.jpg)
.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar