Kamis, 18 Maret 2021

Dua Master Fisherman Menggegerkan Jagat Pemancingan



Kang Dammar berhasil mengail ikan Patin
dibantu kang Endang "yah, lumayan lah daripada lumanyun" katanya.


Liputan Mancing Mania NKRI10 di Ciawi Tasikmalaya (18/3/21)

Dua Pemancing Anggota Goweser NKRI Ankid10, telah menggegerkan dunia pemancingan. Adalah kang Bubun dan kang Nana yang telah mencetak rekor baru, karena keberhasilan kailnya menjewer bibir ikan berkali-kali.

Sedianya peristiwa yg menghebohkan jagat Tasikmalaya ini akan diliput "TV Channel Discouvery Fishing World". Namun karena efek Protokol Kesehatan Covid-19, dimana WNA masih tak boleh masuk wilayah NKRI, maka liputan itupun diurungkan.



Master Mania Mancing, Kang Bubun, mengangkat
hasil pancingannya tidak kurang dari 20 ekor
ikan Patin dibantu pak de Rochadi


Kedua fisherman ini, memang bagai toyota kijang, tiada duanya. Selain pasangan ini masih tetap bertengger sebagai juara pingpong dengan meraih 17 bintang. Nyatanya, dibidang permancingan ikan pun tak kurang piawainya. Wajar kalau ada jin yg mengusulkan untuk didaftarkan di rekor MURI.



Kang Nana yang mendapat gelar sebagai Master Ikan Mujair
tak kurang dari 20 ekor berhasil diangkat ke daratan


Kang Bubun dengan joran pancing andalannyà sanggup menjewer sekitar 20 moncong ikan patin ke permukaan. Sementara kang Nana dengan jarum lengkungnya berhasil menusuk sekitar 20 congor ikan Mujair.

Sementara para pemancing lainnya, antara lain: kang Isa, kang Endang, kang Rusdi, dan A Randi, boleh dibilang sebagai pemancing penggembira saja.

Sementara para penonton bayaran yang hadir al: kang Dede Amar, kang Tisna, Ki Ali, kang Hasan, kang Arifin, kang Irsan, kang Dwi, kang de Rochadi, dan bang Tampu.



Bang Randhi menunjukkan hasil pancingannya
walau harus rela berpanas-panas ria untuk
mendapatkan ikan Patin


Jadi Fokus perhatian

Fokus perhatian memang bertumpu pada dua orang pemancing tadi. Misalnya, ke kang Bubun yg selalu strike, giriwil deui giriwil deui dapat ikan patin. Bahkan ada yg ukuran per ekornya mencapai dua sampai tiga kilogram.

Sementara, kang Nana yang tampil dgn gaya pemancing profesional, berselempang tas model golf lengkap dengan peralatan pancingnya. Namun, alamaakkk, yang didapat mujaer deui mujaer deui. Syahdan, ada yg berat per ekornya hanya beberapa gram saja.



Inilah sebagian rombongan yang sempat tertangkap kamera
sebagai peserta Mancing Mania di Ciawi Tasikmalaya


Namun kang Nana, sepertinya lebih mengambil sikap masabodo saja dapat mujaer juga. Yang penting gaya dan tampilan modis sebagai pemancing kekinian.

Mulai timbul suara2 nyeleneh. "Kayaknya pak Bubun semalam shalat tahajud dulu nih dengan dzikir patin, patin, patin sebanyak 100x. Sementara pak Nana mah dua teuing atuh alias Wallahu'alam...

Detik demi detik berdetak, menit demi menit meniti, jam demi jam berdentam, kedua pemancing ini semakin mendapat perhatian utama. Kang Bubun terus2an strike ngagiwing patin. Ari kang Nana, si kehed teh, hayoh we strike mujaer.



Ikan Patin lebih dari 2 kg berhasil diangkat
kang Isa ke daratan, "hebat euy," kata kang Endang


Melihat kondisi seperti itu bang Tampu, mengeluarkan semacam resolusi atau ikrar: "kalau pak Nana belum dapat ikan patin, maka seluruh rombongan tidak boleh ada yg pulang."
Ketegangan mulai terjadi setelah waktu merayap ke hampir lima jam. Sorot mata para oemancing dan pemerhati memang tertuju ke kang Nana yg kerap nihil menangkap ikan patin. Nah, loh!

Karena hari sudah menjelang sore, beberapa peserta mengusulkan untuk pulàng saja. "Eits, gak bisa, nanti dulu...kalau pak Nana belum dapat mancing ikan patin, maka kita semua belum bisa pulang," kata bang Tampu.



Walau mancing hanya sekali-kali tak urung kang Tisna
dapat juga ikan Patin sampai 2 ekor,
"asal tau saja kalau saya bisa mancing," katanya


Sambil menunggu pak Nana dapat ikan patin, ada yg tidur beneran. Ada juga yang sekedar leyeh-leyeh bari nundutan. Namun ada juga yang merasa khawatir.

"Waduh kalau begitu caranya kita bisa nginap disini nih," celetuk kang de Rochadi dengan pandangan kosong, bagai menerawang si teteh Neli yg berbaju beureum burahay itu.

Memang jam demi jam merupakan penantian mendebarkan. Pertanyaannya, Mengapa itu kang Nana tak jua strike ikan patin? Hingga empat jam pertama, selalu saja yg kena sabet ikan mujair. Para pemerhati alias penonton bayaran mulai bertanya pada kang Nana?



Keberhasilan mendapat ikan Patin ditunjukkan kepada
rekan-rekannya, walau ada yg curiga itu hasil tangkapan
kang Bubun yang tampak sedang senyum-senyum tuh!

Demi menenangkan suasana, kang Nana pun berdalih, bahwa dirinya adalah pecinta ikan terbukti memiliki dua kolam ikan di halaman rumahnya. Walaupun yg dipelihara ikan lele tapi kan monyongnya mirip ikan patin. Jadi sepertinya ikan2 lele di rumahnya pada berdoa jangan sampai majikannya (kang Nana) menyakiti temen2nya dari kaum patin.

Para pemancing dan penonton bayaran pun mulai bisa memaklumi walau dengan kening bekernyit yang menandakan "wong ora percoyo."



Maaf ya jangan anggap engteng saya dalam
memancing, "nih buktinya," kata kang Dammar"


Terjadi Sorak Sorai Bergembira

Persis 4,5 jam, kang Nana berkutat dengan joran dengan telapak tangan bobolokot umpan, akhirnya kang Nana berpegang joran dengan ikan patin menggelantung dalam kailnya.

"Pak Nana dapat ikan patiiinnn!!!," teriak kang Hasan Munawar. Karuan saja seluruh penonton bayaran yg sedang berleha-leha di serambi depan pada berhamburan menuju kolam.

Kang Tisna yang sedang tidur pulas pun sampai terbangun dan langsung berlari menuju kolam sambil membawa hp utk mengabadikan peristiwa spektakuker itu.
"Wah, pak Nana dapat ikan patin, berarti kita sudah bisa pulang euy..." timpal kang Arifin.
"Eits, sabar dulu apa benar ikan patin ini hasil pancingan pak Nana?" Kata bang Tampu.
"Lalu kenapa dapat ikan patinnya berada disamping pak Bubun?" Timpal kang Dwi.
"Itu yang dipegang juga sepertinya joran pak Bubun...," curiga A Randhi.
"Lihat ikan patinnya tuh koq lemes begitu, jangan2 ngambil dari ember nih!!" Seru uda Rusdi.



Pemancing spesial putus senar ya uda Rusdi,
walau berhasil menangkap beberapa ekor


Lalu bagaimana reaksi kang Nana dengan terjadinya kontroversi itu?
Menghadapi kontroversi seperti itu kang Nana pun menjawab: "meunang ku meunangna lauk patin, malah dicurigai, dasar aki2 teu aleucreug," kata kang Nana dengan wajah sedikit ditekuk bangun ku keuheul jeung sebel.

Yah memang wajar saja kalau pada gilirannya pada curiga. Bongan na atuh bet pikacurigaeun. Namun, biarlah kecurigaan itu menjadi sebuah teka-teki selamanya. Bila perlu biarkan teka-teki itu lestari menjadi sebuah mitos. Atau menjadi sebuah misteri legenda, yang akan menjadi bahan cerita anak cucu kita di masa depan.

Kisah Ciawi Berkesan

Tepat pukul 06.00 wib, tiga buah mobil, masing-masing Pajero Sport, Honda HRV dan izusu Panther Touring, roda2nya mulai bergulir, berderak, meràyap, dan meluncur pasti dari Gazeebo Pojok Toleransi menuju Ciawi, Tasikmalaya.

Dalam Pajero ada 4 orang: kang Nana (pilot), kang Bubun, kang Dwi dan pak de Rochadi. Di Honda HRV berisi para ahli hisab: bang Tampubolon (pilot), kang Irsan, Ki Ali dan A Randhi. Sementara di Panther: kang Tisna (pilot), kang Dammar (owner), kang Endang, uda Rusdi, kang Arifin dan kang Isa. Dari Ciamis hadir juga Toyota Rush ke Ciawi yaitu kang Hasan Munawar.

Dengan demikian jumlah peserta yang hadir menjadi 15 orang. Tujuan kedatangan ke rumah ibunda pak Dede Amar (Dammar) di Ciawi, tak hanya dalam rangka menjalin silaturahmi, menggelar kegembiraan bersama, dan ngareuah-reuah ultah kang Dammar yg dalam bulan ini genap berusia 60 thn, namun juga dalam rangka menghabiskan ikan2 patin yg ada di kolam beliau. Tentu dengan syarat harus pakai pancingan.

Mulailah para pemancing menggelar aksinya tidak kurang 4,5 jam. Ada kang Bubun yg piawai menjerat patin. Ada kang Isa yg lumayan bangenan dengan joran dan umpannya. Ada kang Endang yg dengan tangan dinginnya sanggup mengail beberapa ekor patin. Ada uda Rusdi yang lumayan katanya dapat 6 patin walau seringkali patinnya lepas lagi hingga tak jarang putus senarnya. Ada A Randhi yg rela berpanas-panas ria ke seberang kolam demi meraih beberapa ekor patin. Ada kang Tisna yg cuma iseng2 doang namun lumayan dapat 2 patin dan sekali putus kail. Ada kang Nana yang spesialis ahli ikan mujair. Ada kang Dammar dan kang Arifin yg gayanya doang utk berfoto dari hasil tangkapan rekan yang lain.

Alhasil dari 60 kg ikan patin yang sengaja ditabur kang Dammar ke kolam, para pemancing hanya sanggup mengail sekitar 40 kg saja. Itupun sekitar 50% nya karena keberhasilan kang Bubun melobi ikan patin hingga ikan2 itu mau dan tertipu dalam jeratan kailnya.

Alhamdulillah wa syukurillah dari 40 kg yg berhasil ditangkap, langsung dibersihkan dan dipotong2 oleh 3 orang saudara kang Dammar. Setelah itu barulah dikemas dalam plastik2 menjadi 27 kantong. 15 kantong untuk peserta yang hadir dan 12 kantong dibagikan ke para goweser dan sesepuh yang tidak sempat hadir.

Kang Dammar memohon maaf karena tidak semua anggota wag ini mendapat bagian.

In syaa Allah berkah

Akhirnya, melalui penyampaian kang Tisna, kami semua yang hadir maupun yang mendapat jatah ikan mengucapkan banyak terima kasih kepada kang Dammar dan keluarga atas kedermawanannya, hususon dalam menyediakan kolam beserta ikannya untuk beramai-ramai kami explore hingga nyaris ikan di kolam itu ludes.

Selain itu terima kasih tak terhingga atas penyajian jamuan makannya. Pada makan pagi, masyaa Allah, dengan sop buntut yang rruar biasa uenaknya. Dan pada makan siang bersama sop patin yang nikmatnya gak kira2.

Jazakallahu khoiron katsiro. In syaa Allah akan membawa keberkahan pada keluarga kang Dammar dengan rezeki yang semakin melimpah...mengalir deras tanpa batas...
Dalam kaitan ultahnya yang ke-60, kami semua juga menyampaikan "barakallahu fii umrik" karena tak ada lagi yg kita harapkan selain usia yang berkah dan berakhir dengan husnul khotimah. Aamiin ya robbal'aalamiin...//*nas

Tos ah, cag mung sakieu heula...
Sampai jumpa di event berikutnya....

Minggu, 14 Maret 2021

Kuliner Lontong Kari Sapi Legendaris Sejak Tahun 70'an



Berpose di depan Kampus UNPAD Bandung seraya menunggu
dua orang yang kedodoran di belakang, "kang Iskandar ngabandang euy!!"


Liputan Gowes NKRI Minggu Ceria 140321...

Akhirnya kesampaian juga menikmati Kupat Kari Sapi/Ayam Kebon Karet. Konon, tempat ini, dulu, tak hanya tempat nongkrong/mabal anak2 sekolah, namun juga acapkali dikunjungi para pejabat, mulai dari Gubernur hingga aparat di bawahnya. Sebagaimana diceritakan dan dibenarkan okeh Ki Aki dan kang Irsan.

Bagaimana kualitas menunya? Wow, rasanya memang sanggup menggempur lidah hingga tak sudi berhenti untuk bergoyang. Dengan kata lain maknyus kabina-bina kang bro!!.
12+ Goweser pun begitu lahap menikmatinya.



Para goweser andalan RW-10 Antapani Kidul yang selalu siap 
bergowes ria dalam seminggu dua kali yakni pada Rabu dan Minggu


"Nemu si teteh"

Touring gowes di Minggu Ceria ini tergolong lumayan berat. Trek yg ditempuh dengan tanjakan yg intens lumayan menyiksa kedua kaki.

Di rest area pertama di IBCC, ada pegowes wanita yg ikut beristirahat. Dasar aki2 carunihin, maka tak luput dari tegur sapa sekedar menggoda. Eh, rupanya si teteh yg diketahui bernama teh NENI itu, kasih respon positip, yg ujung2nya ingin ikut bergabung dgn rombongan.

Ya sudah, selain rasa iba karena dia bergowes sendirian dari Ujungberung, juga karena sdh sepatutnya anak orang harus diamankan. Tugas pengawalan pun diberikan pada kang Iskandar. Dengan catatan dpt terjaga keselamatannya dan jangan sampai ada lecet sedikitpun.
Walaupun cukup menjadi beban, karena seringkali harus lama menanti si teteh dan kang Iskandar yg acapkali kedodoran di belakang. Penantian yg lama terjadi rest area II di Unpad dan rest area III di Teras Cikapundung, Jl Siliwangi.




Siap berangkat, sekali melaju cadu kudu mundur lagi


Kalau dilihat sepintas, saat memakai kacamata dan masker, memang mirip Desi Ratnasari. Namun ketika dibuka masker dan kacamatanya, sepertinya tidak keliru seperti kata kang Dammar, "tos teu aya cai-an." Entahlah apa yang dimaksud dengan kang Dammar.
Walaupun begitu tetep saja eta si teteh janten salah sawios wanoja priangan kameumeut kang Iskandar sareng Ki Ali.

Bagi yg ingin melobi si teteh lebih jauh, no hp-nya ada di salah seorang goweser tuh...Siapa tau bisa diapelin di malam jumat kliwon....//**nas

Cag ah..!!



Beristirahat sejenak sambil menunggu rekan lain di belakang, 
"pak De eta saha nu baju beureum?" kata kang Irsan bangun rada cemburu



Sampai di tujuan untuk menikmati Lontong Kari Sapi/Sapi 
yang tahun '70-an sangat dikenal di kalangan pejabat dan anak sekolah

Begini expresi dan suara hati saat melihat teh Neni...

1. Kang Dede Hamam: "kutap-ketap sambil sekali-kali melirik"
2. Kang Ade: "molotot teu ngiceup2, sigana mah jodo urang ieu teh"
3. Kang Bubun: "lumayan keur coel2 sambel mah"
4. Kang Irsan: "ah, alusan keneh urang ciparay, jabaning si teteh ciparay mah baroga balong"
5. Kang Sigit: "astaghfirullah endah pisan eta ciptaan Alloh"
6. Kang Pur: "embung ah sieun ditakol ku nu di imah"
7. Kang Bidin: "bisa gak yah tukar tambah jeung bet donic"
8. Ki Ali: "wait and see ya di malam jumat kliwon"
9. Kang Isa: "ah gaduh hiji oge teu seep2"
10. Kang Iskandar: "ada yg berani ambil, langkahi dulu mayatku"
11. Kang Randhi: "ogah ah, ngeri ketahuan mertua"
12. Kang Nana: "aku rela tak kebagian."

(Catatan: Expresi dan suara hati para goweser tersebut, bukan keadaan yang sebenarnya tapi merupakan rekaan penulis untuk hiburan semata)


Berikut Jalur Gowes Ahad Ceria:

Pos 1 (Halte bus IBCC).
Pojok toleransi - Jl. purwakarta - Jl. Terusan jakarta - Jl. Jakarta - Jl. Ahmad Yani ( Halte bus IBCC).

Pos 2 ( Masjid Istiqomah).
Halte bus IBCC - Jl. Bengawan - Jl. Ciliwung - Jl. Citarum ( Masjid Istiqomah).

Pos 3 (Unpad dipati ukur).
Masjid Istiqomah - Jl. Cilamaya - Jl. Diponegoro - Jl. Aria Jipang - Balik Arah di bawah jembatan layang pasupati - Jl. Penata Yudha - Jl. Dipati Ukur (Unpad).

Pos 4 (Teras Cikapundung Jl. Siliwangi).
Unpad - Jl. Dipati Ukur - Jl. Siliwangi - Jl. Sumur Bandung - Jl. Taman Sari - Jl. Siliwangi (Teras Cikapundung).

Pos 5 (Lontong kari kebon karet).
Teras Cikapundung - Jl. Siliwangi - Jl. Cihampelas - Jl. Wastu Kencana - Jl. Rajiman - Jl. Pajajaran - Jl. Cicendo (Lontong kari kebon karet).

Pos 6 (Pojok Toleransi).
Lontong kari - Jl. Cicendo - Jl. Aceh - mengikuti arus jalan kenangan sampai pojok toleransi.

Jumat, 12 Maret 2021

Humor: Cita-Cita Jang Kamsuy





Diajar Basa Sunda

Guru : "Keur ngeusi pangwangunan bangsa,
ayeuna barudak kudu leuwih soson-soson dina nyiar elmu pangaweruh, meh teu kasilih ku bangsa batur. Ulah nepi ka aya paribasa, "jati kasilih ku junti".
Ku kituna hidep kabeh kudu boga cita-cita luhur, nya...!!!"

Murid : " Sumuhun bu guruuu..."

Guru : "Ayeuna ibu rek nanya cita-cita aranjeun saurang-saurang, nya. Naon cita-cita aranjeun jaga, cik Nining....!."

Nining : "Abdi mah hoyong janten polwan bu, supados tiasa ngajaga masyarakat tur kulawarga".

Guru : "Sae geuliiis. Sok ayeuna Onah".

Onah : "Abdi mah hoyong janten bidan anu sholehah bu, supados tiasa nyehatkeun masyarakat oge ngurus kulawarga."

Guru : "Emmh, aya ku payuuuus tah cita-cita teh, Nah. Ayeuna, kumaha ari Ecin?"

Ecin : "Abdi mah hoyong muka toko grosir sembako bu, supados tiasa ngahasilkeun tur ngurus kulawarga."

Guru : "Beu, mani kayungyun cita-cita teh Cin...

Tah, ayeuna budak lalakina nya, ceuk Guru.

Guru: "Kumaha cing jang Kamsuy?"

Kamsuy : "Cita-cita abdi mah mung hiji bu."

Guru : "Memang naon cita-cita hidep teh, Suy?"

Kamsuy : "Nyandung, bu !!!"

Guru : "Naooonnn...Gustiiiiiii nu Agung, ari maneh Kamsuy kamana horeng ngajawab teh. Terus rek kasaha nyandung teh kitu?"

Kamsuy : "Nu kahiji ka Polwan Nining, nu kadua ka Bidan Onah nu sholehah,
atuh nu katiluna ka Ecin anu gaduh grosir sembako. Insya Alloh hirup abdi bakal genah sareng merenah, tur tumaninah bu guruuu."

Guru : Gustiiii Kamsuuyyy,..maneh teh cerdas mah cerdas ngan nurustunjung....sateh..!!

Rabu, 10 Maret 2021

Kuliner Jawa Timuran yang Sanggup Memanjakan Lidah



Aki-aki garumasep da memang karasep, "tuh! buktinya ada 4 wanoja nu gareulis
yang minta difoto bareng di depan hotel Homan Bandung."


Liputan Gowes NKRI di Rabu Seru (10/3/21)

Gowes NKRI Ankid-10, memang tak terlepas dari persoalan kuliner, kalau tak mau dibilang tak jauh-jauh dari urusan perut.

Sejak berkumpul di Gazzebo Pojok Toleransi, pembahasan lebih fokus pada dimana kita akan kuliner. Soalnya target kuliner akan berdampak pada rute/jalur yg akan ditempuh.

Sebenarnya ide awal disetting kita akan kuliner di Pabriek Bajoe atau di sekitaran Buahbatu saja. Namun selama perjalanan terus mengalami perubahan. Di rest area pertama di IBCC misalnya, baru disadari kalau di Pabriek Bajoe kulinernya baru buka pukul 10.00 wib. Jadi terlalu lama menunggu dan terlalu siang untuk kembali.



Eits, rupanya kayak kembar siyem yah...!!!

Di rest area berikutnya, di Taman Katapang, Jl Veteran mengalami perubahan lagi. Bagaimana kalau ke Kupat Tàhu Petis Cicendo, atau ke Gule Kepala Kambing Otista atau ke Soto Hj Widodo Sulanjana?

"Ah, mendingan ke Sate Cimandiri saja," kata kang Irsan.



Di rest area IBCC inilah kaum aki-aki carunihin itu
beristirahat guna melepas lelah sejenak


Pak Sigit pun rupanya punya pengalaman kuliner yang menarik untuk diusulkan. "Bagaimana kalau ke kuliner Jawa Timuran saja yang berlokasi di Gudang Selatan," usul pak Sigit.

Akhirnya dalam KLB, prestol, pak Dammar, memutuskan utk mencoba sesuatu yang baru seperti idenya pak Sigit ke kuliner Jawa Timuran saja.


Di Rest Area ke-2 di Taman Katapang, Veteran...Semangat para goweser
masih meledak-ledak


Akhirnya 14 Goweser pun meluncur ke target yang dituju di Gudang Selatan yang diarahkan langsung oleh pak Sigit.

Setelah sampai, melihat tempatnya memang biasa. Tapi rupanya tersimpan rahasia yang ternyata pasakannya punya citarasa yang ruarrr biasa. Menu andalannya adalah nasi rawon dan nasi pecel dan Rujak Cingur. Sayangnya Rujak Cingur saat itu tidak tersedia.


Empat goweser wanoja dari Ciparay berfoto bareng dengan para goweser NKRI
Tak ada yg ingin kenal lebih jauh dengan mereka, maklum kami kumpulan aki-aki saroleh


Dilihat dari wajah2nya tampak semua goweser sangat puas. Dan yang paling puas dan tampak sumringah pastinya adalah pak Isa, karena saldonya tetap utuh.

Kita semua menyampaikan ucapan terima kasih kepada bang Tompu atas inisiatifnya menutup seluruh biaya kuliner ini.

Penghargaan sebuah Bintang kuliner memang pantas diberikan pada bang Tompu.

Thanks a lot bang...Semoga rezekinya semakin melimpah ruah...//*nas



Sampailah di tempat kuliner Jawa Timuran di Gudang Selatan, "Makanannya uenak tenan," kata kang Isa dan kang Ernan


"Ah, macam mana pula, makanan ku masih di mulut, jadi jangan banyak 
cakap dulu lah..," kata bang Tampu



Ada menu beras kencur yang terasa banget kencurnya, "sorry kalau beras 
kencurnya saya masukan ke termos ya," ucap kang Dammar



"Menunggu makanan disajikan, ikut difoto dulu ah," ujar kang Nana


Senin, 08 Maret 2021

Humor: Juragan Pameget Saksina





Juragan istri bendu uring uringan, rehna calana jero sababaraha potong leungit, mangkaning nu mahal, bermerk. Pajar teh anti cuci deuih da mahal tea...(hiiiyyy aah...!!/red)

Ari cop hatena nuduh ka pembantu, pedah awakna saukuran, jeung ceuk tatangga mah sarua seksi na jeung manehna. "Saha deui atuh da euweuh awewe sejen di imah teh, aya oge budak awewe nu leutik keneh," ceuk dina hate jeung pikirna.

"Tong teu ngaku !! Silaing geus maling calana jero dewek!! Mahal deuleu eta teh dualas juta salosin nyaho !!

Atuh si Nyi Kenyot pembantu ngomong bari ceurik da ngarasa teu rumasa :

"Ibu abdi jalmi teu gaduh, tapi daek medu, moal ari dugi ka maling lancingan lebet mah !!," bantah Nyi Kenyot sorana dareuda les-lesan.

" Jujur siah tong ngabohong! asal jujur ngaku bari dibalikeun deui eta barang, dihampura ku kami !!," bentak dunungan nana bari panon na rada dibuka cingcirining keur molotot.

" Leres ibu !! Upami teu percanten mah cobi geura Juragan Pameget sauran ?" ceuk Nyi Kenyot.

"Naon siah make mamawa salaki dewek hah !!?" ceuk dunungan nana bari ngarenghap, molotot bangun nu ambek pisan.

Ngadenge nu sentak senghor jeung nu ceurik Juragan Pameget nyampeurkeun.

"Aya naon ieu teh, meuni asa rareuwas pikahariwangeun !!?, " tanya juragan pameget.

"Ieu Juragan...abdi disangki maling lancingan lebet Juragan Istri !! Sok Juragan kedah kersa janten saksi !! pan Juragan oge uninga abdi mah tara nganggo lancingan lebet !!!" ceuk Nyi Kenyot teu eueleum2 nunjukeun beungeut siga nu ngarasa teu boga dosa.

Atuh langsung kadenge sora ngagorowok tarik naker.
"Bapaaaaaa......!!!," gorowok juragan Istri bari ngaleketey ngagubrag kapaehan.///***

Sabtu, 06 Maret 2021

Gerebeg Kuliner Ayam Kremes Ciliwung



(Para goweser NKRI Antapani Kidul RW-10 tengah berpose
untuk menjajal kelezatan Ayam Kremes Aliya Citarum)


Liputan Gowes NKRI Ankid-10 (6/3/21)

Minggu Ceria 7 Maret 2021, ada 17 Goweser NKRI Ankid-10, yang kembali beraksi. Ya, setidaknya guna menguji nyalinya dalam mengolah pedal si roda dua. Walau diakui, kali ini soliditas peserta agak keteteran. Namun yang luar biasa solidaritas tetap terjaga dengan baik.
Misalnya, ketika terjadi trouble rem pada salah satu peserta, yakni Ustadz Mumu, sebagian peserta turut membantunya. Sementara setengah peserta lainnya terlanjur melesat jauh ke depan hingga ke rest area Braga.

Kisruh berawal, memang sebagai akibat dari beberapa kali perubahan rute. Bisa dimaklumi, soalnya terkait dgn target kuliner yg akan dituju. Atau boleh jadi sebagai akibat kurang difahaminya jalur/trek yang akan ditempuh.


Awalnya terjadi diskusi apakah kuliner akan di tempat biasa di kupat tahu petis Jl Palasari atau cukup yang di sekitaran Antapani saja? Namun ada usul lain, bagaimana kalau kuliner kali ini di warung Ayam Kremes Aliya Jl Ciliwung? Keputusan ditetapkan prestol, pak Dammar. "Kalau begitu, Yuk, kali ini kita jajal Ayam Kremes Aliya yang berlokasi di Ciliwung saja," kata pak Dammar seraya bersiap berangkat dari Gazzebo Pojok Toleransi.

Syahdan, 8 pegowes dengan korlap (pemandu trek) pak Irsan pun melesat ke depan mengambil jalur Antapani, Jl. Jkt, Jl Sukabumi, Jl Gatsu, Jl AA, hingga ke rest area di Jl Braga (8 pegowes menunggu cukup lama disini).

Setelah dilakukan kontak ternyata di Jl A. Yani, ada trouble yg dialami salah satu peserta tadi. Akhirnya karena jarak yang terlalu jauh untuk bergabung kembali, maka disepakati, sebagian yang tertinggal di belakang tidak melanjutkan ke arah kota, namun langsung menusuk ke titik pertemuan kuliner di Ayam Kremes Jl Ciliwung.

Setelah puas menikmati kuliner, yg terbilang mahal utk ukuran jajanan pinggir jalan itu, perjalanan rombongan pun mulai bersatu kembali, meluncur ke arah Jl Supratman, Pusdai, Jl KH Mustofa (Suci), Cicaheum, lalu belok kanan menuju Antapani dan Pojok Toleransi.

Alhamdulillah perjalanan dapat dilaksanakan dengan baik dan selamat, serta pastinya penuh canda, ceria dan bahagia...

Pak Sigit Bintang Kuliner

Alhamdulillah, kuliner kali ini mendapat donatur dari salah satu peserta, yang notabene Ketua DKM Almuhajirin, pak Sigit Tjiptono.

Jamuan Ayam kremes, Nasi Gudeg Opor Ayam, Soto Ayam, serta ditemani tempe mendoan, sanggup memberi kepuasan pada 17 goweser yang memang sudah pada keroncongan.

Terima kasih pak Sigit, in syaa Allah berkah. Apalagi beliau sangat faham, dalam salah satu hadits shohih, "bahwa orang terbaik adalah orang memberi makan orang lain."
Semoga rezeki pak Sigit kian melimpah mengalir deras tanpa batas...Aamiin ya robbal'aalamiin.

Salam sehat dan tetap sumringah (*nas)




Sedang menunggu giliran ramsum ayam kremes Aliya,
dimanfaatkan untuk nongkrong di seberang jalan, "awas ah keserempet"



Kang Randhi sedang periksa kondisi rem sepeda punya pak Mumu yg error
disaksikan secara seksama oleh pak Bidin, "yang beres yah...!!!"



Menunggu dan menunggu merupakan pekerjaan menjengkelkan
apalagi saat perut sedang lapar




Deuh carita na mah ieu teh keur nampang di Jl. Ciliwung,
"Susuganan weh aya wanoja priangan nu naksir cenah" kereteg na



Rabu, 03 Maret 2021

Nasi Kebuli Itu Begitu Nikmat





Liputan Gowes NKRI Ankid-10 tgl 03 Maret 2021

Bungah bin sumringah tampak jelas di wajah2 16 goweser NKRI (Neangan Karunia Ridho Ilahi). Terutama ketika berhadapan dengan 3 nampan berisi Nasi Kebuli yang nikmatnya minta ampun itu.

"Wah, kita ini benar-benar merdeka menikmati masa-masa pensiun ini. Ini adalah karunia besar dari Allah, nikmat mana lagi yg harus kita dustakan," begitu kata Prestol, kang Dammar, seraya menyitir petikan Alquran Surat Ar-Rahman.

Memang, nasi kebuli Gandapura, diluar dugaan mampu memberikan kepuasan 16 goweser nkri yg ikut touring 25 km, minggu kemarin (03/03/21).

"Kasihan dan pasti nyesel deh yang gak ikutan gowes kali ini," begitu celetukan salah seorang peserta yang ogah disebut namanya.

Nasi Kebuli Gandapura, memang bukan nasi biasa. Dari bentuk nasinya yang gede-gede dipadu dengan penataan 10 potongan daging kambing di setiap nampan, memang mengundang air liur tersendiri untuk ditelan. Bagi yang pernah haji atau umroh, barangkali serasa mengenang ketika berada di Arab Saudi.


Apalagi kalau melihat para goweser yang begitu tekun menikmati butir demi butir nasi yang tersaji. Begitupun dengan potongan daging kambing yang tersaji begitu empuk, barangkali besan lewat pun akan dicuwekin alias pura-pura gak melihat saja. Kang Tisna, misalnya, begitu lahapnya menikmati kebuli ini hingga beberapa piring, bahkan sisa di nampan pun disikatnya pula.


Apalagi ada semacam ancaman dari Prestol, kang Dammar, kalau makanan yang ada di nampan itu tidak dihabiskan, maka tak akan diajak gowes kuliner lagi. Mendapat semacam ancaman begitu, kang Tisna pun merespon: "Ah, entong kitu atuh pak, piraku abdi teu diajak deui," seraya mempercepat suapannya agar nasi yang ada di nampan cepat habis.

Rute yang ditempuh memang tidak langsung menusuk ke Gandapura, namun seperti biasa terlebih dahulu menyusuri jalan-jalan kenangan perkotaan kota Bandung.

Alhamdulillah semua berjalan dengan baik, lancar, dan pastinya berbahagia. Hal ini tidak terlepas dari doa panjang Almukarom, ketua DKM, pak Sigit, yang selalu setia turut ambil bagian dalam bergowes selama ini.

Sampai jumpa pada Gowes Minggu mendatang dengan kuliner yg masih dijajagi tempatnya. Yang pasti tidak akan kalah nikmatnya dengan yang ini. Pak Tisna dan bang Randhi akan survey lokasinya.

Tak lupa pula ucapan terimaksih kepada bang Tampu yg sudah mensuport 35% dana kulinernya. Semoga rezekinya semakin keren dan melimpah ya bang...
Cag ah...


Berikut foto-foto para goweser...



Waduh, betapa senangnya para Goweser NKRI Ankid-10
telah sampai di tujuan untuk menikmati Nasi Kebuli The Food Opera





Betapa lahapnya menikmati nasi kebuli ini...masyaa Allah Tabarakallah...




"Seperti inilah nasi kebuli Gandapura
yang menghebohkan itu," kata bang Tampu




The Super Tim, Goweser NKR Ankid-10




"Nikmat mana lagi yang engkau dustakan," kata kang Dammar



Di Rest Area II Taman Katapang, Veteran



Enam goweser berpose di Taman Katapang, "Geus lah nu tengah
pangkasepna lah...!!!




Sedang menyusun strategi, bagaimana caranya agar
para goweser ini semakin dikenal dunia




Berpose di bekas Toko Hasaram Jaman Kuda Gigit Besi



Awas pak Isa ada yang mau nangkod tuh!!!



"Apa? Mau ke Resto Nasi Kebuli? Siapa takut," kata
pak Isa yang bendahara itu




Berpose di tugu Indonesia Menggugat.
"Emang mau menggugat siapa sich!!!" kata pak de Rochadi



Di Gazzebo Pojok Toleransi dilakukan perencanaan matang
guna menjajal Nasi Kebuli Gandapura

17 Goweser Peduli Kesehatan Pasca Idul Qurban

  (berpose di Depan Kantor Dinas Teritorial Bandara Husen Sastranegara) (Rest Pertama di Gedung Sebelah Hotel Homan) Tujuh belas goweser RW-...